Berbicara dalam aktifitas public
speaking bukan hanya sekedar berbicara lancar dan runtut sesuai dengan topik
pembicaraan, tetapi cara berbicara kita juga harus dapat membuat audiens merasa
nyaman mendengarnya sehingga tujuan kita berbicara kepada audiens,meskipun
sekedar untuk memberikan informasi atau untuk mempengaruhi agar audiens
melakukan apa yang kita sarankan dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu,
sangatlah penting bagi public speaker mengetahui bagaimana cara berbicara yang
dapat menarik dan membuat nyaman audiens dan hal itulah yang disebut gaya
berbicara.
Gaya adalah seni bagaimana kita
mendeliverikan, mempresentasikan atau mengekspresikan materi. Gaya ini biasanya
terkait dengan konsekuensi enak dan tidak enak. Bagi kita yang tidak memilih
profesi sebagai public speaker, gaya ini mungkin bisa penting dan bisa tidak.
Gaya ini biasanya selalu berubah, tergantung pengalaman, selera, jam terbang,
penguasaan, kepribadian, karakter personal, dan lain-lain.
Meski gaya ini variatif dan
"suka-suka" kita memilihnya, tetapi ada semacam rambu-rambu umum yang
perlu kita perhatikan yakni antara lain:
1. Berbicara ngelantur
kemana-mana.
Ibarat masakan, terkadang kita
butuh bumbu-bumbu yang ikut menambah kenikmatan dan kelezatan. Tapi bila
bumbunya ini terlalu banyak, nasib menunya bisa lain. Begitu juga dengan
berbicara. Terkadang kita butuh bumbu-bumbu, misalnya contoh, data, dalil,
humor dan lain-lain. Tapi bila itu kebanyakan, ini akan mengalahkan materi
utama yang ingin kita sampaikan. Apalagi misalnya sampai ngelanturnya itu
mengkorupsi waktu orang lain. Silahkan bergaya apa saja tetapi jangan sampai
ngelantur.
2. Berbicara terlalu cepat atau
terlalu lambat.
Terlalu cepat dapat membuat
audien tidak mengerti dan tidak bisa mengikuti jalan pikiran dan materi yang
kita paparkan. Jika ini menyangkut angka atau data penting, ini bisa gawat.
Begitu juga kalau terlalu lambat. Ini bisa membuat orang ngelamun atau kurang
semangat mengikuti kita. Idealnya, kita perlu memperkirakan antara 80-100 kata
dalam satu menit.
3. Suara terlalu tinggi atau
terlalu rendah.
Jangan meninggikan suara sampai
dapat menganggu audien tetapi juga jangan terlalu merendahkan suara sampai
tidak jelas didengar. Sebisa mungkin, kita perlu mengatur nada, irama dan
tekanan. Artinya, ada beberapa hal yang perlu kita keraskan, datarkan dan
rendahkan. Untuk yang sudah punya jam terbang tinggi, ini biasanya terjadi
secara otomatik. Tetapi untuk pemula, ini perlu kita latih dalam visualisasi.
4. Terlalu banyak gerak atau
terlalu diam.
Gaya apapun yang kita pilih, itu
suka-suka kita. Tetapi, hendaknya kita perlu menghindari praktek
"overacting" atau "underacting" (terlalu diam) sehingga
terkesan seolah-olah tidak ada interaksi antara kita dengan audien. Karena itu
ada saran agar kita bisa menatap satu persatu dalam hitungan detik supaya
muncul interaksi.
5. Terlalu rumit atau terlalu
banyak poin yang penting.
Gaya apapun yang kita pilih
hendaknya perlu kita desain agar dapat membantu menyederhanakan persoalan yang
kita sampaikan. Jika ada istilah-istilah asing yang tidak umum, kita pun perlu
menjelaskannya dengan bahasa yang kira-kira bisa dipahami oleh audien. Ini bisa
kita lakukan dengan contoh, analogi, penjelasan dari kita, dan lain-lain.
Begitu juga dengan poin-poin yang
kita anggap penting itu. Belum tentu apa yang kita anggap penting itu akan
penting juga bagi audien. Belum tentu apa yang penting bagi kita dan audien
akan dianggap penting oleh mereka. Karena itu perlu ada pengarahan dan penyiasatan
yang didukung oleh gaya bicara. Jika kita harus menjelaskan persoalan yang
banyak sekali poin-poin yang penting, ini butuh metode yang kira-kira bisa
diikuti, misalnya dengan nomor: pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya atau
dengan istilah seperti judul, sub judul, sub-sub judul, dan lain-lain.
Selain sebagai seni dalam
penyampaian materi, gaya bicara juga berkaitan dengan etika dalam berbicara,
karena apabila gaya berbicara seseorang sudah maksimal dan sesuai dengan
audiens tetapi melanggar etika yang ada dimasyarakat maka ini juga akan
berpengaruh pada penerimaan audiens dan menjadi tidak berkenan untuk menyimak
pembicaraan kita. Etika ini meliputi kepantasan dan ketidakpantasan; kesopanan
dan ketidaksopanan.
Beberapa hal yang sering dianggap
etika umum dalam berbicara di depan publik itu antara lain:
1. Salah menyebut orang atau
menyebut orang dengan sebutan / sapaan yang berpotensi dirasakan tidak enak,
misalnya: ibu yang gendut itu, mas yang kurus, bapak yang berkacamata, mbak
yang berkulit hitam, dan seterusnya. Akan lebih safe kalau kita menyebut
namanya saja ditambah dengan kata-kata yang memuliakan, seperti: pak, bu, mas,
dan seterusnya.
2. Memberikan contoh yang
menyinggung atau menyakiti orang, terutama dari audien. Pilihlah contoh, anekdot
atau kiasan yang kira-kira dapat membantu penjelasan kita, tetapi juga perlu
kita pikirkan efeknya bagi orang lain.
3. Menganggap audien sebagai
orang yang bodoh dan menganggap kita lebih jago. Ini biasanya tidak kita
ucapkan lewat mulut, tetapi kita praktekkan melalui tanggapan atau penjelasan.
Di depan orang banyak, pertanyaan seperti apapun perlu kita tanggapi secara
bijak dan dengan logika-logika yang positif. Untuk menekan perasaan demikian,
hindari motif-motif untuk menonjolkan diri, misalnya ingin dianggap orang
hebat, orang pintar, dan lain-lain. Batasi pikiran untuk hanya berkesimpulan
bahwa di situ kita hanya menjelaskan sesuatu dan bila ada yang kurang kita
perbiki. Titik.
4. Tidak
"melek-sponsor". Ini biasanya digunakan untuk menyebut artis,
penyanyi, mc, atau pembicara yang tidak menyebut atau mempromosikan sponsor
yang menyelenggarakan acara. Meski kita bukan artis atau penyanyi tetapi akan
lebih etis kalau kita mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang menurut
kita telah memberikan kontribusi.
5. Jauhi mannerisms, seperti
garuk-garuk kepala, merapikan baju, mengusap muka, hidung, telinga, melihat
dasi atau sepatu, dan lain-lain. Intinya, kita perlu mengkondisikan diri
se-informal mungkin tetapi perlu menghindari hal-hal kecil yang berpotensi
dianggap sebagai ketabuan atau ketidakpantasan.
Selain yang telah disebutkan
diatas, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan seorang public speaker
saat berbicara yang dapat diselaraskan dengan gaya bicara public speaker
tersebut, yaitu :
1. Intonasi (intonation), nada
suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata.
2. Aksentuasi (accentuation) atau
logat, dialek. Lakukan stressing pada kata-kata tertentu yang dianggap penting.
3. Kecepatan (speed). Jangan
bicara terlalu cepat.
4. Infleksi – lagu kalimat,
perubahan nada suara; hindari pengucapan yang sama bagi setiap kata. Infleksi
naik (go up) menunjukkan adanya lanjutan, menurun (go down) tunjukkan akhir
kalimat.
5. Audible, bicaralah agak keras
agar cukup terdengar
6. Clarity, ucapkan setiap kata
dengan jelas
7. Gunakan kata berona (colorfull
word) yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya kata “terisak-isak”
lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” lebih
berona daripada bergembira, dll.
8. Kalimat aktif (action words)
lebih dinamis daripada kalimat pasif.
Gaya bicara dalam aktifitas
public speaking tidak lah sama, hal tersebut sangat bergantung pada tempat,
keadaan dan audiens yang dituju.public speaker yang berbicara didepan massa
seperti saat kampanye tidak akan sama gaya bicaranya dengan public speaker yang
berbicara didepan audiens pada suatu acara seminar. Salah satu contoh gaya
bicara dalam public speaking adalah sebagai berikut :
Gaya Bicara di Radio
Ada yang bilang radio itu
obrolan, maka gaya biciara di radio harus bergaya ngobrol, layaknya dua orang
teman sedang ngobrol. Radio itu media yang bersifat pribadi. Karenanya, bicara
di radio harus menggunakan gaya komunikasi antarpribadi dan menghindari gaya
bicara formal.
Bicara di radio termasuk Public
Speaking. Hanya pendengarnya tidak tampak di depan mata, audiens harus
diasumsikan satu orang, hanya satu pendengar, dan dipandang sebagai teman baik
sehingga gaya bicara kita pun akan akrab, hangat, dan ramah. Maka, saat
berbicara di radio, seperti halnya penyiar (announcer), gunakan gaya bahasa
obrolan, layaknya ngobrol dengan teman dekat dalam keseharian.
Salah satu contoh bagaimana gaya
bicara di radio dapat kita melihat sebagaimana yang dilakukan Presiden Amerika
Serikat, Franklin D. Roosevelt (FDR), dalam sebuah siaran radionya yang
terkenal dengan “Fireside Chats”. Gaya bicara atau kampanye radio Roosevelt
dipandang sangat baik dan efektif. Beberapa teknik Roosevelt saat itu adalah
sebagai berikut :
1. Roosevelt memvisualkan atau
memperlakukan pendengar sebagai pribadi-pribadi, tidak pernah sebagai
sekumpulan orang banyak ( as individuals, never as a mass of people ). Ia
membayangkan bahwa hanya satu orang yang menjadi pendengarnya, sebagai teman
bicara dan teman baik.
2. Roosevelt memvisualkan
pendengarnya sebagai teman yang bersamanya di meja makan malam ( the dinner
table ). Meja makan malam merupakan tempat menciptakan suasana santai dan akrab
untuk berbicara.
3. Roosevelt menyadari wajah dan
tangan pendengar, juga pakaian dan rumahnya. Kian spesifik berpikir tentang
pendengar, akan makin baik kontak Anda dengan mereka (The more spesific you are
about your listener, the more you will connect).
4. Ekspresi suara dan wajah
Roosevelt ketika berbicara merupakan ekspresi seorang teman akrab ( an intimate
friend ). Nada suara Anda sangat berhubungan dengan ekspresi wajah. Senyum akan
menghangatkan suara Anda, membuatnya terdengar hangat dan inviting ( mengundang
).
5. Ketika berbicara, kepala
Roosevelt mengangguk dan tangannya bergerak secara alamiah, gerakan tubuh yang
sederhana ( simple gestures ). Untuk menjadi komunikator yang powerful, Anda
harus menggunakan seluruh tubuh. Gerakan dan bahasa tubuh ( body language )
menambah energi dan semangat bagi pembicaraan Anda.
6. Wajah Roosevelt penuh senyum
dan ceria layaknya duduk di depan teman di meja makan malam bersama kawan karib
atau teman kencan. Senyum adalah salah satu alat paling berpengaruh bagai
pendengar Anda meskipun mereka tidak melihat Anda ( A smile is one of the most
powerful tools you have to create rapport with your listener, even when the
can’t see you! ) Maka, senyumlah ketika berbicara, bahkan ketika Anda tidak mau
melakukannya sekalipun.
Dalam aktifitas public speaking,
seorang public speaker senantiasa membuat evaluasi diri setelah selesai dia
melakukan aktifitas public speakingnya. Beberapa hal yang mesti dia evaluasi
menyangkut gaya dan sikap berbicara adalah sebagai berikut :
- Apakah suara saya sengau ?
- Apakah suara saya terdengar tidak
konfiden ?
- Apakah suara saya terdengar
over confident dan cenderung sombong ?
- Apakah suara saya hilang
diujung kalimat ?
- Apakah artikulasi saya tidak
jelas ?
- Apakah bicara saya terlalu
jelas ?
- Apakah suara saya terlalu lemah
?
- Apakah suara saya seperti orang
terjepit ?
- Apakah suara saya terdengar
gugup ?
- Apakah cara berdiri saya kaku ?
- Apakah tangan dan anggota tubuh
saya terlalu banyak bergerak ?
- Apakah mimik saya tegang ?
- Apakah mimik saya tidak serius
?
- Apakah saya kelihatan sombong/sinis
?
- Apakah saya overacting?`
Dengan mengevaluasi beberapa hal
seperti diatas, seorang public speaker akan dapat mengukur kemampuannya,
melihat dan menilai sendiri kelebihan dan kekurangannya sehingga dia dapat
memperbaiki hal-hal yang keliru dia lakukan dalam aktifitas public speakingnya.
Hal ini akan membuat public speaker tersebut tidak mentok dengan kualitasnya
yang ada dan dia akan dapat terus berkembang menjadi public speaker yang lebih
baik dan semakin baik.



0 komentar:
Posting Komentar